Kan selalu kuingat senja itu.
Senja yang membuat hatiku menjadi bisa lebih memilih. Memilih siapa
yang seharusnya menemaniku. Rasa yang sebelumnya hilang, kini tiba-tiba
muncul (lagi). Sore itu kau dekap aku dalam pelukanmu, lalu ku
tenggelamkan mukaku ditubuhmu, sejuk, damai, ah aneh rasanya. Aku
melihat dirimu yang dulu. dirimu yang selalu menyayangiku.
Dalam perjalanan pulang aku hanya terdiam, menangis dalam diam.
Pandanganku kosong, namun air mataku masih mengalir deras dibelakangmu
tanpa kau sadari. aku hanya mengingat masa indah kita. Lalu hancur
begitu saja, karena dia~ ya wanitamu.
"kau kenapa? Kau sudah bosan?" bicaramu membuatku terkejut hingga
akhirnya ku usap air mataku dengan kasar dan ku jawab pertanyaanmu
"tidak". Lalu kau menarik tanganku agar berpegangan padamu, ku
lingkarkan tanganku di perutmu. Lalu kau mengajakku makan di warung
pinggir jalan yang katamu enak.
"jangan makan disitu, terlalu mahal" menunjuk restauran bercat hijau itu.
Deg
Aku terhenyak pada kata katamu. Ku tahu kau ingat pada wanitamu.
Ku jawab perlahan "iya aku tahu, aku pernah makan malam disana bersama orang tuaku" aku pura-pura tak mengerti.
"kau pernah?" tanyanya "iya" jawabku.
Lalu kami duduk di warung itu. Kami memesan makanan. Beberapa saat
pesanan minumanku datang. Sambil menunggu makanan datang aku hanya
bermalas-malasan. Mengaduk-aduk es jerukku tanpa ada kata kata yang
keluar dari mulutku untuk memulai percakapan lagi denganmu. Aku sempat
kembali merasakan kasih sayangmu di bukit dan senja itu, setelahnya kau
ingatkanku pada rasa sakitku yang sebelumnya sudah kulupakan. Rasaku
sedikit aneh lagi, aku lagi lagi merasakan benci itu. Aku hanya tak
ingin kau ingatkanku lagi. aku hanya ingin kau tahu, sekarang aku adalah
wanitamu yang dulu, wanita yang kau harapkan. sekarang hatiku berpihak
padamu sayang.
Selasa, 09 Desember 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar