Kali ini aku menulis dengan suasana hati yang tak kumengerti. Sulit
sekali untuk mengungkapkan segalanya, sulit sekali menyatukan rasa
dengan kata.
Aku menulis ini dengan sangat bersusah payah, tidak seperti dulu
lagi. Karena saat aku menulis ini ketika sudah tak banyak lagi
imajinasi, inspirasi, dan frasa kata yang kupunya.
Jujur saja, kali ini aku menulis dengan keadaan otakku yang sudah rusak parah, aku bahkan tak tahu, kemana arah dan tujuan tulisanku ini.
``Bintangku hilang. Itu yang kutahu``
Ketika menulis ini, aku bertanya pada diri sendiri dan berpikir
apakah aku telah benar-benar melepasnya, merelakannya. Aku tak tahu
pasti. Sudah kubilang aku tak mengerti dengan suasan hatiku sendiri saat
ini. Benar-benar tak mengerti. Yang kutahu, aku harus menumpahkan
segalanya lewat tuisan, meski jika pada akhirnya aku sendiri bingung
dengan susunan kataku yang tak beraturan.
Aku menulis ini dengan menahan tangis, tangisan yang memilukan.
Tangisan yang bertanya apa arti rasa sakit ini, apa arti rindu ini.
Sungguh ini pilu, memilukan. Rasanya aku ingin berteriak sekuat mungkin, ingin menangis sekeras mungkin.
Pilu, itu yang kutahu saat aku menulis paragraf ini. Pilu menyergapku, tiba-tiba dingin dan, dan aku, aku
merindukannya lagi. Tapi, kali ini airmataku enggan keluar dari
pelupuk mata, atau aku memang sudah tak mampu lagi menangis. Aku ingin
marah, aku murka ketika aku tak mampu menangis, dan mengungkapkan
segalanya.
Ini pilu, sungguh.
Aku lelah. sungguh aku benar-benar lelah sayang. Aku letih dengan
segalanya. Menahan rindu, lalu berpura-pura semua baik-baik saja,
berpura-pura bahagia, memaksa diri untuk tidak mengingatmu lagi, menahan
diri untuk tidak mengabarimu, dan bersikeras melupakanmu. Justru
nyatanya aku tersiksa. Aku lelah. Sungguh, aku benar-benar ingin pergi.
Kenapa rasanya begitu mudah bagimu menarik dan memaksaku masuk dalam
jeratmu lagi, sedangkab aku sudah bersusah payah mendobrak pintu dan
berlari keluar menjauh darimu. Lantas jelaskan padaku mengapa sesakit
ini ketika aku tahu kamu memang benar benar tak perduli padaku. Bahkan
ketika kabarmu tak menyapa layar di handphone ku. Mengapa sesakit ini
mengabaikanmu, mengapa sesakit ini rasanya di abaikan. Mengapa sepilu
ini. Sayang, aku harus apa jika dalam supaya membencimu aku tak berhasil
dan selalu gagal, aku harus apa? Aku harus apa ketika aku kewalahan
menahan rindu? Aku harus apa jika pilu menyergapku? Katakan padaku
sayang, aku harus apa untuk membencimu. Nyatanya aku tak pernah
berhasil. Bahkan aku semakin mengingatmu. Benciku justru menjadi
benar-benar cinta. Aku benar-benar kehabisan cara. Aku capek. Aku lelah
melawan rasaku sendiri. 1 Bulan sayang. Lelah. Akan sampai kapan begini.
Aku huga benci ketika mengetahui bahwa aku menangisimu, aku benci saat
aku menjadi rapuh dan lemah sedang pengabaianmu tak pernah berhenti. Aku
benci pagiku dengan katup mata yang membesar seperti mata panda.
Sungguh, aku benar- benar lelah. Sumpah demi apapun aku ingin menyerah.
Aku lelah. Tapi mengapa semua tak dapat semudah saat aku mengerjapkan
mata, atau semudah meminum air saat aku haus.
Butuh seberapa sakit lagi?
Aku sudah lelah~
Senin, 15 Desember 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar